Latar Belakang Munculnya Konsep Ahimsa Mahatma Gandhi

Latar Belakang Munculnya Konsep Ahimsa Mahatma Gandhi

Sebagai seorang Barister muda yang haus akan pekerjaan, Mahatma Gandhi pergi ke Afrika Selatan atas permintaan saudagar kaya India yang sedang berselisih. Gandhi diundang sebagai seorang pengacara untuk membantu penyelesaian kasus tersebut. Dari kesempatan ini, Gandhi memulai karirnya sebagai pelayan masyarakat sekaligus terjun untuk pertama kalinya dalam bidang politik ketika ia menjumpai ketidakadilan dan diskriminasi yang diterima dirinya dan orang-orang India yang ada di Afrika Selatan.

Seminggu setelah kedatangannya di Afrika Selatan, Gandhi diutus untuk menemui pengacaranya dan membahas kasusnya ke Petroria di Transval. Dia naik kereta api kelas satu dengan pakaian ala Inggris. Tetapi ia diusir oleh orang Inggris dan petugas kereta api yang ada di situ dan disuruh untuk pindah gerbong kelas tiga. Ia menolak dan turun di Maritzburg.  Maka ia menghabiskan malam panjangnya yang dingin itu dengan duduk di ruang tunggu stasiun. Gandi merenung sambil memikirkan apa yang ia alami. Jiwa mudanya menginspirasinya untuk bertahan dan harus berjuang bukannya lari atau diam-diam menelan penghinaan terhadap martabat dan hak asasi seperti itu. Ahirnya ia beranggapan bahwa malamnya di Maritzburg sebagai suatu titik yang mengubah arah kehidupannya.[1]

ahimsa, yoga
Dalam beberapa hari setelah sampai di Petroria, barangkali karena penghinaan yang dialami selama perjalanan ia mulai mengadakan pertemuan-pertemuan yang dihadiri komunitas India di Transval. Dalam pertemuan ini Gandhi berpidato untuk pertama kalinya di depan publik umum. Gandhi berbicara tentang diskriminasi rasial yang dilihat dan dialaminya. Dia juga mendesak para pendengarnya untuk menjalankan bisnisnya secara jujur, mewajibkan mereka untuk memperbaiki kebiasaan kebersihan mereka dan melupakan perbedaan agama dan kasta di antara mereka. Para pendengarnya puas dan terkesan dengan pidato pertamanya Gandhi, sehingga mereka memutuskan untuk membuat pertemuan serupa setiap minggunya. Dia juga menawarkan kepada komunitasnya untuk mengajar mereka bahasa Inggris. Meskipun dia datang untuk bekerja sebagai seorang Barister, tetapi dia mulai mengubah dirinya sendiri menjadi pemimpin dan guru masyarakat.[2]
Gandhi, negosiator dan penggerak yang tekun dan sabar, menjadi juru bicara bagi kepentingan para pedagang India. Dia melangkah setapak demi setapak untuk menemukan obat ketidak adilan, pertama untuk masyarakat elit India, kemudian untuk seluruh masyarakat termasuk para pekerja kelas rendah mantan budak melalui perjuangan tanpa kekerasan.. Afrika Selatan menjadi bumi pembuktian landasan bagi kemunculan Gandhi sebagai pemimpin utama komunitas India emigran selama dua dekade berikutnya. Hingga tiba waktunya  kembali ke India dia telah berubah total dalam berpakaian dan tata krama sehari-hari, berpikir dan berbicara. Gandhi menyebut tahun pertamanya di Afrika Selatan sebagai pengalaman yang tidak terlupakan dalam hidupnya, kerja publiknya diluncurkan, dan semangat keagamaannya menjadi tenaga yang hidup[3].


Baca juga artikel terkait lainnya:

Garis Besar Pemikiran Mahatma Gandhi



[1] Ved Mehta., Ajaran-ajaran Mahatma Gandhi Kesaksian dari Para Pengikut dan Musuh-musuhnya,  terj. Siti Farida, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2002), hlm. 203.
[2] Stanley Wolpert, Mahatma Gandhi: Sang Penakluk Kekerasan, Hidupnya dan Ajarannya, terj. Sugeng Harianto, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2001), hlm. 51.
[3] Ibid., hlm. 52.
Rating: 4.5 out of 5

0 komentar:

Post a Comment

◄ Posting Baru Posting Lama ►
 

Copyright © 2012. Satria Baja Hikam - All Rights Reserved Template IdTester by Blog Bamz